Materi P2 Mata Kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (Semester 6) | Presentasi Makalah Kelompok 1 dan 2


Presentasi Makalah Mata Kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Pertemuan Kedua – Kamis, 5 Maret 2026

Pada hari Kamis, 5 Maret 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI Al-Kifayah Pekanbaru melaksanakan kegiatan presentasi makalah pada pertemuan kedua mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yang diampu oleh Ibu Nelia Guswanti, M.Pd.

Pada pertemuan ini terdapat dua kelompok yang mempresentasikan makalah, yaitu Kelompok 1 dan Kelompok 2. Kedua kelompok membahas materi yang berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus, khususnya mengenai anak tunanetra dan anak tunarungu, serta bagaimana pendekatan pendidikan yang tepat bagi mereka.


Presentasi Kelompok 1

Judul Makalah

“Mengenal Anak Tunanetra dan Pendidikan untuk Anak Tunanetra” 

MAKALAH KELOMPOK 1


PPT KELOMPOK 1

Anggota Kelompok 1

  1. Ahmad Sobri
  2. Budi Irsyad
  3. Delgi Ripika
  4. Dian Fajriatul F
  5. Hamidah
  6. Hermawan
  7. Muhammad Ismail
  8. Nur Azizah
  9. Ummu Maulatul F
  10. Yanasari 

Resume Singkat Makalah

Makalah ini membahas tentang anak tunanetra, yaitu anak yang mengalami gangguan pada indera penglihatan sehingga mengalami keterbatasan dalam menerima informasi secara visual. Kondisi ini dapat memengaruhi proses belajar, interaksi sosial, serta perkembangan kognitif dan emosional anak. 

Dalam makalah dijelaskan bahwa anak tunanetra dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat ketajaman penglihatan, yaitu tunanetra total dan low vision. Selain itu, ketunanetraan juga dapat dibedakan berdasarkan waktu terjadinya, seperti sejak lahir maupun setelah lahir.  

Makalah ini juga menjelaskan berbagai karakteristik anak tunanetra, seperti keterbatasan dalam pembentukan konsep abstrak, hambatan dalam interaksi sosial, serta perlunya pelatihan orientasi dan mobilitas untuk membantu mereka mengenali lingkungan.

Dalam bidang pendidikan, anak tunanetra memerlukan pendekatan pembelajaran khusus yang bersifat konkret dan multisensori. Media pembelajaran yang digunakan antara lain huruf Braille, media taktil, serta teknologi asistif seperti screen reader

Makalah ini menyimpulkan bahwa dengan pendidikan yang tepat, dukungan keluarga, serta lingkungan yang inklusif, anak tunanetra tetap dapat mengembangkan potensi yang dimiliki dan hidup secara mandiri di masyarakat.


Presentasi Kelompok 2

Judul Makalah

“Mengenal dan Pendidikan untuk Anak Tunarungu” 

MAKALAH KELOMPOK 2


PPT KELOMPOK 2

Anggota Kelompok 2

  1. Aisyah Turrodiah
  2. Retno Handayani
  3. Fadly Farsanjani HS
  4. Frisda Wulandary
  5. Amiruddin Muzaki
  6. Jeni Anggraini
  7. Yulia Dwi Saputri
  8. Qonitah 

Resume Singkat Makalah

Makalah ini membahas tentang anak tunarungu, yaitu anak yang mengalami gangguan pada indera pendengaran sehingga mengalami kesulitan dalam menerima informasi melalui suara. Kondisi ini berpengaruh terhadap perkembangan bahasa, komunikasi, serta interaksi sosial anak. 

Dalam pembahasannya dijelaskan bahwa tunarungu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor prenatal (sebelum lahir), perinatal (saat kelahiran), dan postnatal (setelah lahir). Tingkat gangguan pendengaran juga bervariasi mulai dari ringan hingga sangat berat atau tuli total. 

Anak tunarungu memiliki beberapa karakteristik, terutama dalam aspek bahasa dan komunikasi, seperti keterlambatan berbicara, kesulitan memahami bahasa lisan, serta penggunaan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi utama.

Dalam bidang pendidikan, anak tunarungu memerlukan metode pembelajaran khusus seperti metode oral, bahasa isyarat, dan komunikasi total. Selain itu, penggunaan media visual, gambar, video, serta alat bantu dengar sangat membantu dalam proses pembelajaran. 

Makalah ini juga menekankan pentingnya peran keluarga, guru, dan lingkungan sosial dalam mendukung perkembangan anak tunarungu agar mereka dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan mandiri.


Penutup

Presentasi pada pertemuan kedua ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai anak berkebutuhan khusus, khususnya anak tunanetra dan tunarungu. Mahasiswa diharapkan dapat memahami karakteristik, kebutuhan, serta pendekatan pendidikan yang tepat bagi mereka.

Dengan pemahaman tersebut, calon pendidik diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama